Pernikahan = Perayaan (?) 

Selamat pagi Aninda yang lebih sering baper beberapa bulan ini…  😄

Yuhuu…  Judul postingan ini ambigu sekali.  Itu sebuah pernyataan atau pertanyaan yah? Hemm..  aku yang nulis aja gatau itu apa.  😅 Aku cuma mau menyampaikan pandanganku aja sih. Yah, daripada aku galau di medsos uplot-uplot foto atau quote, ya mending nulis aja.  😊

Bicara tentang pernikahan pasti langsung dikaitkan dengan sebuah perayaan. Serius deh,  ini tuh berdasarkan pengamatan dan pengalamanku beberapa bulan ini lho. Siapapun yang punya rencana mau nikah, pasti disibukan dengan segala persiapan yang berhubungan dengan perayaan. Nggak usah dijelasin lagi yah segala bentuk persiapan perayaannya itu apa aja. Pasti udah pada tau. 😀

Lalu gimana dengan aku? Tentu aku dan keluarga pun demikian, menyiapkan segala sesuatu untuk menunjang perayaan. Yah jujur nih, sebagai perempuan kekinian, bohong kalau aku bilang aku nggak pengen ada ini itu, bohong kalau aku bilang aku pengen sederhana. Tapi… dibalik itu semua, ternyata makin dekat hari-H,  justru aku makin galau (mungkin ini sindrom pra nikah yah?). 😢

Jadi, yang ngebuat aku galau itu adalah…

Sebenernya kalau dipikir-pikir nih,  segala bentuk perayaan itu nggak begitu menunjang si manten anyar lho. Toh begitu selesai ijab,  kedua ‘pasangan baru’ harus dan bersedia hidup mandiri. Mandiri disini bukan cuma berani ‘hidup berdua’  jauh dari kedua orangtua. Bukan cuma itu,  tetapi si suami harus siap menafkahi lahir batin istri, harus siap mencukupi kebutuhan keluarga kecil mereka. Lalu si istri pun demikian,  harus siap dan nurut apa kata suami,  harus siap nggak mudah baper lagi. Yap! prentelan-prentelan seperti itulah yang kurang lebih harus dihadapi si manten anyar. 

Ketika aku sadar bahwa fakta itulah yang harus aku hadapi,  disitu aku mulai berada di fase galau. Wkwkwkwkw… Aku cuma beranggapan,  kenapa justru aku malah repot sama urusan perayaan yah? Harusnya yang lebih aku siapkan itu adalah mental dan dana lebih untuk menuju kehidupan yang benar-benar baru.  Ya nggak? Huhu….  😣😣

Yah..  walaupun saat ini aku sudah mulai memasuki sindrom khawatir,  dan sudah di fase sadar.  Tapi aku pribadi nggak bisa ngelak dengan semua bentuk perayaan yang nantinya bakal aku jalanin. 😐

Setelah aku resapi semua, apa yang bakal aku jalanin ini adalah normal bagi siapapun yang akan menikah. Dan sangat normal lagi, bentuk perayaan pernikahan itu sendiri adalah salah satu upaya dari setiap orangtua untuk menjalankan kewajiban terakhir menikahkan anak-anak mereka.  😳

Jadi, kesimpulannya..  

Aku harus bisa menikmati segala proses keriwehan dalam mempersiapkan perayaan pernikahan, tanpa aku melupakan hakikat pernikahan itu sendiri. Sekarang ini, aku cuma bisa banyak-banyak berdoa,  harus lebih ikhlas dan pasrah sama Allah. Manusia boleh punya rencana,  tapi segala sesuatunya cuma Allah yang menentukan. So, berpasangka baiklah ke Allah,  insyallah hati ini nggak mudah galau.  Aamiin.. Aamiin.. 🙏

Well,  selamat akhir pekan Aninda.. Dont be afraid! You are strong woman Nda!💪  

🌈🌈🌈🌈🌈

” Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif”

🌈🌈🌈🌈🌈