Dibalik (tren) Naik Gunung

Hmm, ngomongin naek gunung , aku memang bukanlah pendaki profesional. Bahkan pendakianku sendiri barulah gunung-gunung kecil di daerah Jateng. *Sebenarnya keinginan untuk mendaki sudah aku rasakan sejak dulu, hanya saja aku tidak berani melantangkannya. Tahun lalu tepat di bulan Agustus,  aku diberi kesempatan untuk melakukan pendakian pertama ke puncak Merapi. Pengalaman pertama naik gunung plus teman perjalanan yang menyenangkan memunculkan efek selanjutnya. Yaitu bakal ‘ketagihan’. Beruntungnya aku memperoleh pengalaman mendaki pertama yang mengesankan. Bukan karena aku dan teman setim bisa sampai puncak. Namun karena aku dan 4 teman lainnya sama sekali belum pernah naik gunung, dan kami berempat akhirnya merasakan pengalaman muncak dengan solid.

Jangan merasa jumawa ketika berada di alam..

Ketika teman setim mempunyai sifat ‘egois’, dijamin perjalanan muncak pun makin terasa berat. Padahal sedari awal kita menyadari bahwa tujuan utama naik gunung bukanlah puncak. Aku pribadi merasakan bahwa perjalanan mendaki adalah sebuah perjalanan penuh nilai-nilai kehidupan. Disitu kita belajar untuk meredam ego kita, menguatkan hati untuk terus semangat dan tidak gampang menyerah namun juga jangan memaksakan diri. Terus melangkah tanpa melupakan sekeliling kita, baik itu teman sependakian maupun alam…
Jangan merasa jumawa ketika mendaki, jangan egois ketika mendaki, *ini dari pengalaman pribadi soalnya* T_T

Tentang bagaimana menikmati pendakian..

Ini bukan soal seberapa sering kamu sampai puncak, bukan pula seberapa banyak foto yang kamu dapatkan selama pendakian. Ini tentang bagaimana meresapi perjalanan menjadi  salah satu pengalaman dalam mempelajari hidup. Tentang bagaimana merasakan jiwa dan tubuh ini menyatu ke alam. Melepaskan kepenatan rutinitas dunia dalam pendakian yang ‘tidak bernafsu’. *Nafsu untuk segera sampai puncak!*

Semua butuh pengorbanan, butuh perjuangan..

Mendaki dengan tidak bernafsu membuatmu harus mengorbakan waktu lebih banyak, karena waktumu yang menjadi terbuang. Tak apa…
Mendaki pun butuh perjuangan, karena memang yang indah dan menyenangkan  itu tidak instan didapat, mendaki itu butuh perjuangan karena beban di punggungmu selama mendaki kelak di atas sana justru akan sangat membantumu.

Semakin sering kamu sampai di puncak, semakin kamu merasakan bahwa kamu bukanlah apa-apa. Jadi jangan berikan ‘label apapun’ ketika kamu sudah berhasil muncak. Tetap rendah hati, bukan ingin menaklukan alam, bukan pula takut ditaklukan alam. Mendakilah dengan menyatu ke alam.

salam dari seseorang yang menyukai aroma alam / bukan seorang pendaki profesional / 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s