Three Things About

PROLOG
Setiap hari sepanjang perjalanan pergi dan pulang kerja yang aku temui adalah pemandangan kemacetan lalu lintas. Kendaraan seolah berbaris, space antar kendaraan pun kecil. Bahkan tidak jarang beberapa kendaraan roda dua mengambil hak pejalan kaki. Ya, tiap hari berjalan kaki membuat aku sering bertemu dengan pengendara roda dua yang menggunakan trotoar pejalan kaki sebagai lalu lintas mereka menerobos kemacetan. Selain pemandangan tersebut, hingar bingar klakson kendaraan yang saling bersahutan pun memekakkan telinga. Bagiku kemacetan seperti ini memang bukan hal asing di kota besar, namun yang tidak bisa aku bayangkan adalah kondisi psikis orang-orang yang rutin berhadapan dengan keadaan demikian?

1~ Polusi, deru kendaraan, pemandangan yang ‘sumpek’ seolah merupakan ‘pembunuh diam-diam’ bagi penduduk kota besar. Lingkungan yang tidak sehat perlahan meracuni. Bukan hanya fisik yang sakit, namun jiwa dan pikiran akan mengalami hal yang serupa. Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Bayangkan jika tiap hari kita menjalani rutinitas demikian? Sudah pasti jiwa kita tidak tenang bukan? Jelas tidak tenang, bagaimana mungkin bisa tenang berada di lingkungan ‘serba buru-buru’?. Lalu bagaimana bisa menikmati, jika hati saja tidak tenang ketika melihat kemacetan serta mendengar berisiknya suara kendaraan.

Pagi sore aku rutin menyaksikan pemandangan tersebut.

2~ Seketika ingatkanku kembali ke masa ketika aku begitu mudah menikmati suasana hijau di Timur-Mu, aku masih bisa melihat air jernih mengalir di pinggir sawah. Aku masih bisa melihat langit biru dengan udara segar, mengingat pemandangan itu membuatku diam-diam berbisik memohon kepada-Nya agar aku tidak tumbuh tua di kota ini. :’)

3~ Aku tidak bangga bisa bekerja di kota besar, tidak juga bangga dengan statusku sebagai ‘pekerja’. Bukan aku tidak mensyukuri, hanya saja menurutku menjadi seorang pekerja di kota besar bukanlah apa-apa dibandingkan dengan mereka yang meniti kehidupan dengan membuka ‘ladang usaha’ di kota kecil.

Tulisan ini terpecah menjadi 3 hal yang aku rasakan, tentang ‘silent killer’ di kota besar, tentang kontrasnya kehidupan kota di Barat dan Timur-Mu, serta tentang kegelisahan hatiku yang mencoba berlatih menjadi ‘seorang pekerja’ walaupun sesungguhnya aku pun berkeinginan membangun ‘lahan usaha’.

EPILOG
Kota yang saat ini aku tinggali adalah kota di Barat-Nya dan kota di Timur-Nya itu yang seakan memanggil diam-diam untuk (kelak) aku tinggali.
Lihat gambar dibawah ini, manakah yang membuat mata hati kalian nyaman?

barat-timur

Terlepas dari kontrasnya pemandangan kedua kota ini, sebagai manusia tentu kita membutuhkan ketenangan jiwa. Dan ketenangan jiwa itu salah satunya bisa diwujudkan lewat kondisi dimana kita bermukim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s