Untitled

Jangan terlalu mendominasi, selayaknya ada pria yang akan menuntunmu.

Pagi cerah di kota Jakarta, hari senin tanggal satu di bulan terakhir tahun ini harusnya bisa menjadi pembuka yang manis. Namun tidak demikian dengan perasaanku.

Beberapa hal membuatku serasa ingin mengibarkan bendera putih, rasanya..
Ada di lingkungan dimana wanita terlalu mendominasi membuatku apatis dengan pria. Kadang aku menganggap mereka memang selayaknya di depanku. Tapi ketika pria tersebut tak mampu berjalan di depanku, aku akan memaki. Memaki diriku sendiri. Kenapa aku begitu sulit untuk ‘menerima apa adanya’. Haruskah apa adanya dalam memahami? Bukankah kita harus memahami lebih dari apa adanya? Lagi-lagi aku berdebat sendiri.

Aku paham, kadang tidak semestinya kita harus menjadikan segala sesuatu bernilai lebih materi. Jujur jauh di dalam hatiku, aku tidak ingin terjebak fatamorgana dunia.. Ingin aku sesederhana ia (pria-ku). Hanya saja lingkungan dan pola pikirku dibentuk dibawah bayang-bayang wanita yang jarang berpikir sederhana.
Semua harus terlihat bernilai materi. Tak bisa lepas…

Ingin aku berlari, berteriak, menepi, kemudian hilang…
Terlalu banyak tuntutan.

Dan aku bodoh karena masih belum bisa mengambil keputusan aku harus ada di posisi mana. Andai kamu tahu, aku hanya ingin membahagiakanmu. Tapi jangan terlalu menuntutku. Aku sadar dan mengerti betapa perihnya lukamu bertahun-tahun di posisi tersebut. Dan aku tak ingin menyesali semua yang sudah terjadi. Jangan membuatku menyerupaimu. Aku tidak ingin terlalu mendominasi sebagai wanita…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s