Movie Review : Perfect Sense

Tulisan ini aku buat setelah aku selesai menonton film Perfect Sense (2011).  Tentang judul diatas, di postingan ini aku ingin membahas salah satu film yang pernah aku tonton dan setelah selesai menontonnya maka akan timbul suatu perasaan yang (bisa dikatakan) ada perasaanan tidak nyaman, kemudian aku menjadi berpikir tentang hal yang ada di film akan terjadi juga di kehidupan nyata, perasaan-perasaan tersebut pada akhirnya akan membuatku pada suatu renungan sederhana. Yang itu sama saja artinya dengan menandakan bahwa film tersebut ‘bagus’, karena telah ‘sukses’ mempengaruhi perasaan penontonnya. 🙂

PS

Yap! Ini ringkasan pemikiranku tentang film Perfect Sense

Awal untuk memilih film ini untuk aku tonton adalah karena cover nya serta  sebuah tagline yang berbunyi  ‘a modern love story’, lalu di pojok kanan atas cover terdapat tulisan ‘official selection 2011 sundance film festival’ yang aku simpulkan sebagai salah satu ‘tanda’ bahwa film ini patut untuk ditonton.

Opening film yang dmulai dari narator wanita (yang kemdudian diketahui bahwa narator tersebut adalah aktris utama film ini), yang bercerita tentang suatu hal tentang kehidupan  yang saling berpasangan.

Di menit-menit awal film ini sudah mulai terlihat aneh, apalagi issue utama yang disajikan adalah ‘tentang sebuah penyakit yang tiba-tiba menyerang manusia, dan penyakit tersebut tidak diketahui berasal dari mana dan bagaimana cara penularannya’. Bukan seperti film sciene fiction yang penonton akan disuguhi adegan tokoh utama berupaya mencari penangkal dari penyakit tersebut, maka di sepanjang film ini kita justru diajak untuk menyaksikan keanehan-keanehan akibat penyakit tersebut.

Penyakit yang menjadi hal sentral di film ini adalah sebuah penyakit yang menyerang fungsi panca indera manusia, dimulai dari indera penciuman, perasa, pendengaran, sampai di akhir cerita indera penglihatan pun lumpuh tak berfungsi.

Jika Anda penikmat drama romantis, jangan berharap lebih bahwa film ini akan menampilkan adegan-adengan romatis tentang sepasang kekasih (walaupun ada sisipan adegan bercinta yang ditampilkan). Sepanjang film kita dibuat berpikir dengan keanehan-keanehan penyakit tersebut yang mana tokoh utamanya adalah sepasang pria-wanita dimabuk cinta.

Ketika film ini berakhir, dan menurutku klimaksnya cukup mengena. Aku sebagai penonton pun diberondong berbagai kesimpulan.

Ya, bahwa,
Ketika pada akhirnya seluruh indera kita tidak berfungi lagi, maka hanya hati (sebuah perasaan cinta) lah yang kelak akan menjadi sebuah alasan kenapa kita harus terus bertahan hidup. Ini semua  bukan tentang lengkapnya inderamu, tetapi lebih kepada bagaimana kamu mensyukuri adanya inderamu juga meresapi setiap manfaatnya.  🙂

nb : Perfect Sense menurutku kategori film berat, butuh pemikiran ekstra untuk bisa bilang kalau film ini bagus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s