Bicara dengan Hati (gray)

Aku bukan tipe orang yang banyak bicara ke banyak orang. Pendiam. Fugh, kadang sebal dengan predikat itu. Kenapa? Ya, pendiam identik dengan orang yang ‘tidak terlihat’ di tengah orang banyak. Dan aku bukan yang ingin demikian. Dan aku bisa lepas berbicara tanpa beban hanya padanya, seseorang disana. I miss you :’)

Terhitung sejak awal bulan Agustus, masalah di rumah menyita pikiranku. Kadang aku ingin tutup mata-tutup telinga dengan apa yang ada dihadapanku. Tapi aku tidak sanggup. Aku bukan orang yang bisa mundur begitu saja. Walaupun akhirnya aku justru sakit hati sendiri.

Aku suka merenung, jauh lebih menyukai kesendirian dibandingkan harus berkumpul dengan orang-orang yang tidak sepemikiran, terlebih faktanya adalah bahwa aku tidak percaya teman.

Beberapa hal hanya memenuhi otakku, tak sampai ke mulutku untuk becerita, atau tak sampai ke jariku untuk aku tulis. Tapi berbagai kalimat racauan sering sampai ke hatiku. Yaa… Aku sering berbicara dengan hatiku. Dan hatiku pun tidak dapat merespon bicaraku. Kami justru saling diam. Aneh ya? 🙂

Aku ingin bisa terus kuat dengan segala masalah yang sekarang aku hadapi. Aku selalu bangga dengan diriku. Dengan kelebihan dan kekuranganku, dengan apapun yang aku miliki.
Dengan gray
Bahwa menjadi abu-abu adalah pilihan, pilihan untuk tetap bertahan berada di posisi tidak sebaik malaikat ataupun tidak seburuk setan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s