Secret of Happiness is Love

Judul posting diatas mungkin dirasa terlalu berlebihan, dimana tulisannya dibuat oleh seorang yang dilihat dari umurnya sangat tidak masuk akal. Aku yang baru saja menginjak usia 17 tahun berbicara tentang “rahasia bahagia”*hummm.. aku pikir sekedar dewasa dalam pemikiran, why not??*

Aku sadar sekali hal itu, tapi berhubung hal itu menjadi salah satu hal yang aku pikirkan – maka aku pun menganggapnya menjadi hal yang patut untuk direnungi.

Hal yang membuat aku menulis hal ini adalah berawal dari cerita teman dekatku, sebut saja “A”.
Tampak dari luar bisa dikatakan A merupakan salah satu anak yang beruntung di dunia ini.  Secara materi, dia lebih dari cukup. Ayahnya memiliki penghasilan yang tetap,  sedangkan Ibunya – meskipun tidak bekerja tapi mampu memberikan setidaknya “uang jajan” kepada A dan adiknya melalui usaha keluarga.

Temanku tersebut sering bercerita bahwa sometime Ayahnya sering mengajak dia dan adiknya pergi ke suatu tempat, sekedar jalan-jalan. Lalu.. Ibunya sendiri termasuk Ibu yang mampu mendidik anak-anaknya dengan cukup baik.

Hal ini terlihat dari sikap A yang tidak pernah bersikap sombong kepada teman-teman nya. Meskipun dia mampu, tapi dia tidak pernah sekalipun menunjukkan materi berlebihan kepada teman-teman nya. Aku yang menjadi teman dekatnya pun kerap kagum kepadanya. Begitulah penilaianku dari luar terhadapnya. Tapi semua penilaianku berubah total saat A datang kepadaku sambil menangis bercerita tentang keluarganya.

Apa yang aku nilai selama ini terhadap A dan keluarga ternyata tidak seperti keadaaan sebenarnya. Dia bercerita bahwa Ayah dan Ibunya memang memberikan materi yang cukup kepadanya, tapi tidak berlaku pada sikap kedua orang tua A yang selalu saja bertengkar hanya karena perbedaaan-perbedaan prinsip. Temanku tersebut akhirnya mengaku kepada aku bahwa kedua orang tuanya menikah bukan karena dilandasi rasa cinta.

Pada awalnya,Ibu temanku mengganggap hal tersebut bisa diatasi oleh penghasilan suaminya (Ayah si A). Tapi perhitungan Ibu si A tidak sepenuhnya benar. Efeknya justru timbul 5 atau 10 tahun kedepan, saat si anak mulai dewasa lebih tepatnya saat si anak telah mampu berpikir.
Miris memang apa yang dialami oleh A. Dia harus bertahan dan berusaha menjadi penengah yang ‘cukup baik’ akan sikap yang dilakukan kedua orang tuanya. Mungkin di dunia ini bukan cuma A yang mengalami hal itu, atau bahkan salah satu dari kita ada yang berpikir layaknya orang tua A. Yaitu…“membahagiakan seseorang melalui materi”.

Aku pikir, hal ini tidak berlaku hanya di sebuah rumah tangga saja. Di semua jenis bidang kehidupan, hal ini bisa saja terjadi. Saat kebahagian dapat dibayar melalui materi yang berlimpah.
Jujur, setelah mendengar apa yang diceritakan oleh A, aku pun jadi berpikir untuk tidak menilai seseorang dari materi. Dan mulai berpikir bahwa bahagia tidaklah harus melalui materi yang cukup. Sejatinya sebagai manusia ada kalanya kita pun membutuhkan “love” yang aku artikan disini adalah “rasa kasih sayang”.

Karena pada hakekatnya “manusia bukanlah sebuah robot, manusia punya hati yang tentu membutuhkan cinta”
cause, secret of happiness is LOVE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s