Sejak pengumuman 1 september 2009,banyak hal yang aku alami dan itu bukan hal yang menyenangkan buatku. Yep! siapa sih yang mau gagal di USM STAN? Okay! Aku tahu masuk ke sana bisa dikatakan (lumayan) sulit. Kenapa? Bagiku bukan karena soal-soal ujian nya,tapi karena peminat STAN yang banyak,at least persaingan untuk masuk kesana pun (sedikit) berat.
Dan memutuskan untuk keluar ato bertahan di UAD jujur bukan hal yang mudah bagiku,meskipun pada akhirnya aku benar-benar keluar dari UAD. Beberapa teman menanyakan alasan kenapa aku keluar. Hmm..aku tahu ini bukan hal yang menyenangkan untuk dibicarakan,tapi sungguh! Aku benar-benar jenuh di Informatika. (maaf klo ada beberapa pihak yang merasa dirugikan dengan kata-kata ku). Dan beberapa alasan lainnya yang akan aku sampaikan jika ada yang bertanya secara personal kepadaku. :’)
Lulus SMA,aku ingin melanjutkan ke Sekolah Penyiaran (Broadcast). Saat itu yang kutahu hanya IKJ. Formulir sudah dibeli,tapi setelah melihat biaya kuliah di IKJ orangtuaku memutuskan untuk tidak mengijinkanku ke IKJ.
Kemudian mama memintaku untuk daftar di STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara). Aku yang saat itu berfikir untuk ‘tak ingin membantah apa kata orangtua‘ pun akhirnya menuruti permintaan mama. Hasilnya? Aku gagal.
Kemudian,aku mencoba untuk daftar di IPB (aku mengambil program diploma). Kalo yang ini keinginan papa. Okay! Aku ikuti. Hasilnya? Sudah dapat ditebak,aku gagal.
Sebelum aku tes di IPB,papa bilang seperti ini kepadaku “Ninda,klo kamu gagal di IPB..kamu harus mau kuliah di Jogja yah?”.
“Iya pa..” jawabku.
Aku gagal di STSN dan IPB. Kemungkinan terakhir aku harus ke Jogja. Saat itu Universitas yang masih membuka pendaftaran salah satunya adalah UAD. Aku mendaftar disana,dan mengambil jurusan Teknik Informatika (jurusan yg sama seperti jurusan yang abang Eca ambil). Kenapa aku memilih jurusan ini? Alasannya karena aku ingin seperti abang. Dan bodohnya aku,aku tidak benar-benar paham dengan jurusan yang aku ambil tersebut!
Semester pertama di Informatika aku hanya mampu mendapatkan IP standar. Dan di semester dua,IP ku benar-benar jatuh! Saat di semester kedua itu keinginan aku untuk keluar dari UAD semakin besar! Di semester kedua aku sempat mengambil brosur MMTC (salah satu Sekolah Broadcast di Jogja),sayangnya di brosur MMTC hanya tertera program DIV. aku bilang ke mama,kata mama.. “kalo cuma DIV lebih baek ga usah Nda“,aku turuti keinginan mama. Di sela-sela rasa bosan ku di UAD,tiba-tiba mama memintaku untuk mengikuti tes STAN,saat itu pengumuman penerimaan mahasiswa baru di STAN belum keluar. Jadi masih ada banyak waktu buatku untuk mempersiapkan segalanya.
Satu bulan lebih persiapan ku untuk USM STAN,itu hanya karena aku tidak ingin mengulangi kesalahan yg sama ketika aku mengkuti tes STSN. Dan jujur aku sangat berharap disana. Kenapa? Alasan simple nya,klo aku keterima di STAN,otomatis aku keluar dari UAD,klo aku masuk STAN setidaknya orangtuaku tidak akan terbebani denga biaya kuliah. Dan lagi,Jakarta-Lampung lebih dekat daripada Jogja-Lampung.
Sebagian temanku ada yang sempat membuatku ‘goyah’ dengan mengatakan bahwa masuk STAN sulit. Yah! Aku tahu bahwa aku bukanlah orang yang super jenius,tapi aku yakin “tidak ada yg tidak mungkin di dunia ini,yang kuperlukan adalah keyakinan bahwa aku mampu menaklukan STAN!“. Setidaknya aku tidak asal tes saja ketika mengikuti USM STAN.
Kelar tes STAN aku pulang ke Lampung,untuk menyegarkan otak yang serasa mau pecah lantaran sudah tidak ingin lagi berlama-lama di Jogja. Dan ternyata kepulanganku ke Lampung pun tidak membuat perasaanku bertambah baik,justru sebaliknya. Menanti pengumuman STAN membuatku semakin tegang. Ditambah lagi keinginanku yang begitu kuat untuk keluar dari UAD lantaran merasa bahwa ‘aku kuliah di Jogja sudah cukup membuat keluargaku susah!‘.
Sambil menunggu pengumuman STAN,mama mengajakku untuk menemaninya mengantar Nindi ke Jakarta (Nindi kuliah di Akper RS.Husada di Jakarta). Harusnya perjalanan itu menyenangkan buatku. Tapi ternyata tidak. Henpon yang selama lebih dari setaun menemaniku harus dengan rela aku lepas,lantaran raib diambil ‘orang yang tidak punya hati!‘. Kekecewaanku pun harus ditambah dengan kabar bahwa ‘Masayu Aninda Pringgardani tidak dapat memilih mata kuliah pilihan di semester tiga!’.
Inikah balasan untuk orang seperti aku yang telah mengecewakan almamaternya??
Ya Tuhan! aku sungguh tidak kuat menanggung beban dari-Mu..
Selepas kepulanganku ke Jakarta,mama yang mulai sadar bahwa aku benar-benar tertekan mengijinkanku untuk ‘mencari Sekolah Broadcast yang ada di Jakarta’. Sebuah harapan datang padaku. Selanjutnya aku pun mulai mencari-cari info Sekolah Broadcast di Jakarta. Dan sampailah aku di Universitas Mercubuana. Dan alhamdulillah gelombang terakhir saat itu masih buka.
Dengan bersemangat aku beri tahu hal ini ke mama,tapi reaksi mama saat itu justru berbeda. Mama seperti tidak mempedulikan apa yang aku sampaikan. Mungkin saat itu mama sedang banyak pikiran. Baiklah! Saat itu pula aku mulai berpikir untuk tidak meminta agar bisa kuliah di Sekolah Broadcast.
30 Agustus 2009
Trip to Jogja.
Trip to Jogja adalah untuk melihat pengumuman STAN,dan kemudian memutuskan apa yang harus aku lakukan jika gagal di STAN.
Lalu seperti yang ada di prolog tulisan ku,aku gagal di USM STAN.
Kecewa?
Sangat pastinya!
Satu bulan lebih persiapanku pun ternyata belum menghasilkan apa yg kumau. Kecewanyaku di UAD juga belum bisa terbayar. Dan yang membuatku benar-benar tertekan adalah ‘rasa bersalah ku yang teramat sangat ke kedua orangtuaku‘ karena telah mengecewakan mereka pastinya.
Stress!!
Apa yang bisa aku lakukan agar aku dapat bermanfaat bagi kedua orangtuaku?
Ternyata tidak ada yg bisa kulakukan!
Semua yang sudah aku lakukan hanya membuang-buang waktuku saja!
Jujur aku sempat kecewa dengan Tuhan,kenapa Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk bisa merasakan indahnya kemenangan??!
Sudahlah…
Menyesali yang sudah terjadi tidak akan mengubah apapun. Hanya akan menambah bebanku saja.
Aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Karena aku yang salah. Aku terlalu banyak berharap,tidak bisa mengambil keputusan,dan kurang yakin dengan ‘apa yang kumau‘.
Aku tidak ingin dikasihani.
Sungguh!
Hanya saja,aku merasa kali ini aku benar-benar butuh untuk ‘bercerita’.
Kupikir mengikuti apa kata orangtua akan menempatkanku pada hal yang menyenangkan. Sesusah apapun itu akan aku lakukan asalkan orangtuaku bangga kepadaku. Walaupun aku harus terjatuh berulang kali akan tetap kulakukan. Tapi melihat kembali apa yang aku alami,yang ada justru kebalikannya. Tidak ingin meminta ‘apa yang sesungguhnya kumau’ adalah hal bodoh yang selalu aku lakukan.
Ninda
(yang saat ini sedang menata kembali perasaannya,dan mengumpulkan kembali sisa-sisa semangat yang hancur karena berulang kali jatuh)
Filed under: Asal Ngetik | 2 Comments

tetep semangat ya nda?
km orang yang kuat, karena km masih mampu bertahan hingga sekarang
tumbuhlah dewasa, ikuti kata hatimu ……
lakukan yang terbaik dari yang hadir dalam hidupmu ……….
agar km tidak menyesal di kemudian hari ………….
dan inget, hidup cuma sekali ………..
ya sabar nda, setiap kegagalan pasti ada hikmah nya kok, dan kegagalan itu adalah syarat menuju kesuksesan, dan kesialan hanyalah segelintir dari keberuntungan,
Allah ngasih cobaan sesuai kemampuan hambanya kok nda, jadi just pattient, n semangat aja positip thinking