Yano : kalau aku sudah dewasa,
dan tidak punya apa-apa selain satu tas,
tapi meminta kamu mengikutiku,
kamu mau ikut?Nanami : itu lamaran yah?
Yano : haha! mungkin…
Nanami : dewasanya umur berapa? 20?
Yano : nggak tahu, kalau sudah bisa hidup mandiri tanpa bantuan orangtua. cepat jadi dewasa. bukan lagi jadi yang dijaga, tapi jadi yang menjaga. nggak ada yang keberatan dan nggak akan membuat siapa pun sedih. ibu, keluarga, bahkan pacar. semuanya pasti bisa kujaga sebagai manusia. Continue reading ‘little words from HWA ~ Bokura ga Ita (JP)’
Filed under: Buku, What The? | Leave a Comment
24 jam! [cape banget!] :|
Filed under: Asal Ngetik | Leave a Comment
” Akhir tulisan ini memang sengaja dibuat menggantung. Penafsiran tiap orang pasti akan berbeda-beda. Selamat membaca! “
Untuk siapapun, yang masih percaya cinta..
(Wanita)
Waktu itu aku sering menangis. Dan ada seorang laki-laki muda yang membawa gula-gula. Laki-laki muda itu menawarkan gula-gula nya padaku. Manis rasanya. Aku suka! Aku tidak lagi menangis karenanya. Laki-laki muda itu bertanya kepadaku, “maukah kamu berjalan bersamaku ?” Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum. Senyum yang seolah mengatakan ‘mau namun tidak sekarang’. Lalu aku pun pergi meninggalkannya. Sekaligus memberikan kami waktu agar kami bisa mengejar mimpi-mimpi kami.
Selama sepuluh tahun itu aku berusaha mengejar mimpi-mimpiku. Beberapa perubahan aku lakukan. Aku tidak ingin ketika ia menemuiku, aku masih sering menangis. Aku harus berusaha memperbaiki sikapku.
Sepuluh tahun kemudian…
Kali ini aku bertemu dengan seseorang. Seorang laki-laki dewasa. Ia adalah laki-laki muda yang dulu memberiku gula-gula. Kali ini ia tidak membawa gula-gula lagi. Melainkan membawa sekotak coklat dan seikat mawar. Ia tidak lagi menggunakan celana pendek seperti ketika ia memberiku gula-gula, tidak lagi memakai sandal, dan juga tidak lagi berdiri di tempat yang sama ketika ia memintaku untuk berjalan bersamanya. Laki-laki dewasa itu bertanya kepadaku, “maukah kamu hidup denganku? “
***
(Pria)
Sepuluh tahun yang lalu, ada seorang gadis muda yang aku sukai. Aku tahu ia menyukai gula-gula. Karena itulah aku pun membuatkan gula-gula khusus untuknya. Gadis muda itu menerimanya. Aku senang. Kemudian aku bertanya kepadanya “maukah kamu berjalan bersamaku?”. Ia tidak menjawab, hanya tersenyum. Namun di senyumannya itu seolah ia mengatakan kepadaku bahwa ia ‘mau namun tidak sekarang’. Lalu ia pergi meninggalkanku.
Selama sepuluh tahun itu aku berusaha mengejar mimpi-mimpiku. Aku melakukan beberapa perubahan di diriku. Aku tidak ingin menemuinya dengan memakai celana pendekku yang lusuh ini, tidak lagi memakai sandal karet ini, tidak akan menawarkannya gula-gula lagi, dan tidak akan lagi berdiri disini!
Dan sepuluh tahun pun berlalu…
Aku bertemu seseorang. Seorang wanita dewasa. Ia adalah gadis muda yang dulu kusuka. Kali ini ia telah banyak sekali berubah. Perubahan yang membuatnya terlihat lebih matang. Tidak perlu menunggu waktu lagi, kali ini aku membawakan sekotak coklat dan seikat mawar untuknya. Aku telah menunggunya disini. Di tempat yang lebih nyaman lagi untuk ia dan aku tempati. Dan aku pun bertanya kepadanya “maukah kamu hidup denganku?”.
***
Mungkin ini hanya tulisan singkat tak berarti, tapi kadang kita terlalu terbuai oleh kata-kata manis pasangan kita. Bagaimanapun juga setiap kita melakukan suatu hal, kita perlu tujuan akhir. =)
Filed under: What The? | 1 Comment
SURVIVE!
Mama sering bilang “ritme hati manusia selalu berubah“.
Kalo boleh aku tambahkan, tidak hanya ritme hati,tapi pada dasarnya ritme kehidupan manusia pun selalu berubah.
Seperti layaknya roda yang berputar,perubahan itu kerap terjadi. Ada masa dimana seseorang dibawah (ketika ia jatuh) dan ada masa dimana ia berada diatas.
Aku ingat Mama pernah bilang seperti ini “kalo misal kamu sedang berperang,dan kemudian kamu sudah tidak mampu lagi menghadapi lawan-lawanmu sehingga mengharuskan kamu kalah,apa yang kamu lakukan?“
“bersembunyi?”
“melarikan diri?”
“atau menyerah?”
Waktu itu aku menjawab “kayaknya aku milih nyerah aja deh Ma..”.
“itu bukan pilihan yang harus kamu ambil” kata Mama..
“terus.. aku harus ngapain?” jawabku.
“yang harus kamu lakukan adalah ‘berpura-pura mati‘
“maksudnya?”
“tidak ada pilihan lain selain ‘berpura-pura mati’.
Dengan berpura-pura mati,kamu tidak akan terlihat mati secara konyol,karena kamu masih mempunyai harapan untuk terus berperang menghadapi lawan. Kamu tidak akan dikatakan “bersembunyi karena takut“,tidak akan dikatakan “melarikan diri karena tidak siap“,ataupun “menyerah karena mengakui kemenangan lawan“.
Kamu melakukan itu dengan sadar karena masih ada harapan untuk kembali berperang.”
Memulai sesuatu yang baru di kemudian hari tanpa pernah melupakan bahwa kamu pun pernah kalah,sehingga membuatmu menjadi prajurit yang kuat!
“Hidup itu layaknya permainan,dan kamu akan dikatakan menang bukan karena kamu selalu berhasil menghadapi tiap tantangan yang ada. Tapi bagaimana kamu belajar dari apa yang ada di setiap tantangan itu sehingga kamu akan selalu siap menerima apapun dari tantangan hidup!“
note :
Sebagian tulisan diatas memang didasarkan oleh apa yang Mama katakan ke aku,plus sedikit tambahan dariku.
Ninda
29 Oktober 2009
“Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang..
melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh…”
(Kahlil Gibran)
Filed under: Asal Ngetik, What The? | Leave a Comment
Aku ingin menyentuh dan menatap wajahmu
bukan dengan sentuhan tangan dan pandang mata,
tapi dengan sentuhan dan pandang cahaya yang bisa
menjauhkan gelap dan terang, hingga duri tak sempat
meruncing menumpah perih.Aku ingin menggenggammu bukan dengan tangan,
tapi dengan kekuatan hati nan dalam
yang bisa menjauhkan keburukan dan keindahan hingga
fitnah tak bertahan melepaskan apa yang kita genggam.Aku ingin mencium jemarimu bukan dengan bibir, tapi
dengan zikir yang bisa menjauhkan kotor dan bersih,
hingga nafas tak hapuskan kesucian.
Oh, membuncah air mataku, dalam menyentuh wajah,
kuat menggenggam hati, dan hening jemari suci.Berbisik di kedalaman dan menembus dinding-dinding
derita dan kematian.
Duhai, nama yang tercipta dari sejarah:
Bolehkah aku menangis bila kusentuh wajahmu, kugenggam hatimu,
dan kucium jari-jemarimu dengan kasihku.
(Juwandi Ahmad dalam Sajakkan Aku Syahadat Cinta di Bawah Matamu)
Filed under: Puisi | Leave a Comment

